Dosen Komunikasi Andi Prasetyo Sebut Mahjong Ways Menarik Perhatian Pengguna Internet

Dosen Komunikasi Andi Prasetyo Sebut Mahjong Ways Menarik Perhatian Pengguna Internet

Cart 88,878 sales
RESMI
Dosen Komunikasi Andi Prasetyo Sebut Mahjong Ways Menarik Perhatian Pengguna Internet

Dosen Komunikasi Andi Prasetyo Sebut Mahjong Ways Menarik Perhatian Pengguna Internet

Di tengah derasnya arus konten digital, Dosen Komunikasi Andi Prasetyo menyoroti satu fenomena yang kerap muncul dalam percakapan warganet: “Mahjong Ways”. Menurut Andi, topik ini menarik perhatian pengguna internet bukan semata karena namanya yang mudah diingat, melainkan karena pola persebaran informasi yang rapi, repetitif, dan terasa “dekat” dengan kebiasaan browsing sehari-hari. Ia melihatnya sebagai contoh bagaimana sebuah istilah dapat menguat melalui kombinasi rekomendasi algoritma, percakapan komunitas, serta gaya komunikasi yang menempel pada budaya populer.

Catatan Andi Prasetyo: perhatian publik bukan kejadian acak

Andi Prasetyo menjelaskan bahwa perhatian di internet bekerja seperti kompetisi ruang: siapa yang paling cepat muncul, paling sering terlihat, dan paling mudah dipahami, akan lebih dulu masuk ke ingatan. Dalam perspektif komunikasi, “Mahjong Ways” memanfaatkan logika keterpaparan berulang (repeated exposure). Ketika pengguna melihat frasa yang sama di banyak tempat—mulai dari kolom komentar, cuplikan video pendek, hingga hasil pencarian—otak cenderung memberi label “ini penting” meskipun belum tentu benar-benar dipahami konteksnya.

Ia juga menekankan bahwa perhatian publik di dunia digital sering terbentuk karena gabungan antara rasa ingin tahu dan rasa takut tertinggal (fear of missing out). Orang tidak selalu mencari informasi karena kebutuhan yang jelas; kadang mereka hanya ingin memastikan apa yang sedang dibahas orang lain. Dari situlah sebuah topik bisa menjadi magnet klik.

“Mahjong Ways” sebagai kata kunci: efek lekat, efek ulang

Dalam pengamatan Andi, daya tarik “Mahjong Ways” muncul dari karakteristiknya sebagai kata kunci yang ringkas dan mudah diulang. Kata yang pendek memudahkan pengguna untuk mengetik ulang, mengingat, dan menyebutkannya dalam percakapan. Struktur frasa yang terdengar unik juga membuatnya cepat menempel di kepala, apalagi ketika disandingkan dengan narasi tertentu yang menggugah rasa penasaran.

Andi menilai pola ini serupa dengan cara kerja tagline: tidak harus menjelaskan banyak hal, tetapi cukup memicu respons awal. Setelah respons muncul, pengguna akan melakukan tindakan berikutnya—mencari, menonton, membagikan, atau berdiskusi. Di tahap ini, algoritma biasanya menangkap sinyal interaksi dan memperluas jangkauan konten terkait.

Skema penyebaran: dari layar kecil ke obrolan besar

Alih-alih melihat penyebaran isu sebagai garis lurus, Andi menggambarkannya seperti skema “tiga pintu” yang saling menguatkan. Pintu pertama adalah konten cepat (short-form): potongan video, meme, atau cuplikan narasi yang tidak memberi penjelasan lengkap namun memancing klik. Pintu kedua adalah komunitas: grup obrolan, forum, dan komentar yang membuat topik terasa hidup karena ada interaksi antarpengguna. Pintu ketiga adalah pencarian: ketika orang mulai mengetik “Mahjong Ways” di mesin pencari, terciptalah umpan balik yang membuat topik makin terlihat relevan.

Menurutnya, skema tiga pintu ini membuat perhatian publik bergerak melingkar. Orang melihat cuplikan, lalu bertanya di komunitas, kemudian mencari, lalu kembali menemukan cuplikan lain. Lingkaran itu memperpanjang usia topik, bahkan ketika sebagian audiens tidak benar-benar memahami awal mula kemunculannya.

Bahasa yang dipakai: sederhana, cepat, dan penuh pemicu rasa ingin tahu

Andi Prasetyo juga menyoroti gaya bahasa yang kerap mengiringi pembahasan “Mahjong Ways” di internet. Banyak konten menggunakan kalimat pendek, klaim yang terdengar tegas, serta frasa pemancing seperti “ternyata”, “bukti”, atau “yang jarang orang tahu”. Pola ini, kata Andi, bukan kebetulan; itu adalah teknik retorika digital untuk menahan pengguna agar tidak menggulir terlalu cepat.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa gaya bahasa yang terlalu menekan rasa penasaran dapat mendorong pengguna mengambil keputusan impulsif: mengklik tanpa membaca, membagikan tanpa memeriksa, atau mempercayai narasi tanpa konteks. Dalam kacamata literasi media, ini menjadi ruang penting untuk edukasi: bagaimana membedakan informasi, opini, dan promosi yang dikemas sebagai fakta.

Perhatian sebagai “mata uang”: siapa diuntungkan, siapa terdorong

Menurut Andi, ketika “Mahjong Ways” berhasil menarik perhatian, yang terjadi bukan hanya peningkatan pembicaraan, tetapi juga pergeseran perilaku. Perhatian adalah mata uang: semakin banyak yang menonton atau membahas, semakin tinggi nilai distribusi konten di berbagai platform. Mereka yang memahami mekanisme ini akan merancang konten agar mudah dipotong, mudah dikutip, dan mudah diperdebatkan—karena perdebatan pun tetap dihitung sebagai interaksi.

Andi menambahkan bahwa pengguna internet sering terdorong untuk ikut bicara agar dianggap relevan dalam lingkaran sosialnya. Maka, suatu topik bisa terus bertahan bukan karena kualitas informasinya, tetapi karena fungsinya sebagai bahan obrolan. Dalam situasi seperti ini, literasi digital menjadi bekal penting: memeriksa sumber, memahami konteks, serta menyadari kapan perhatian kita sedang “dibeli” oleh desain komunikasi yang sengaja dibuat menggoda.